Pada sebuah malam...
Dentuman musik itu bertalu dan bergema dalam rongga dadaku.
Keras. Bertubi. Sedikit menyesakkan. Tapi sungguh terasa enak.
Sesekali suara peluit memekakkan telinga menaikkan adrenalin.
Berjalan sedikit sempoyongan
terobos goyangan manusia yang menggila.
Bertemu kawan-kawan lama. Kenal kawan-kawan baru.
+ "Halo!"
- "Halo halo..."
+ "Hai!"
- "Hai sayang.." [disertai pelukan hangat dan tepukan di punggung]
+ "Saya Alia..."
- "Oh ini Alia Mccann.. "
+ "Pa kabar?"
- "Gue sering baca blog elo..."
Keakraban yang terpilin secara instan dan terasa terjalin erat.
Ku pandang sekeliling.
Ada beberapa kelompok yang berdiri mematung.
Seolah musik DJ hanya mampu menggerakkan ujung kelopak mata mereka.
Aku bingung. Untuk apa mereka datang kalau terlalu gengsi untuk goyang?
Ada beberapa kelompok yang sudah bergerak dan berjingkrak.
Ada yang meliuk seperti ular. Ada yang melompat seperti kancil.
Aku tersenyum.
Dalam pojok kegelapan, seseorang menarikku.
Hidungku sergap mencium wangi yang memabukkan.
Sebuah tangan yang tersodorkan dan sebatang pilingan yang terbakar.
Ku nikmati wanginya dalam tiap hembusan.
Dan tiba-tiba saja, tubuhku ditarik lagi.
Ntah kenapa malam ini, semua orang ingin menarik tubuhku kesana kemari.
Aaarrgh!
Aku kini berada di depan booth DJ.
Teman yang menarikku sudah berjingkrak gembira dan membujukku bergerak bersama.
Pastinya, aku pun bergoyang dan melompat dan menghentak.
Berjam kemudian, betis menjadi letih dan kaki menjerit perih.
Ku duduk di bantalan tinggi dan kembali memandang sekitar.
Segelas Illusion belum bisa menarikku ke alam tak sadar.
I'm fully conscious. Very fully conscious.
Tahukah kamu betapa nikmatnya memandang orang-orang yang sudah asyik sendiri?
Saat itu, mereka berubah jadi diri mereka sendiri.
Tanpa topeng.
Tanpa jabatan yang terlekat.
Hanya manusia.
Yang memiliki rasa cinta.
Rasa cemburu.
Rasa sedih.
Rasa sendiri.
Dan rasa bingung.
Aku melihat seorang wanita muda yang berusaha menarik perhatian
seorang pria muda yang tegap mematung menatap DJ.
Tapi pria itu tak mempedulikan wanita muda yang cantik itu.
Walaupun wanita itu bergoyang gila dan tertawa cekakak di depannya.
Walaupun wanita itu bergelayut manja di sampingnya.
Pria muda itu tetap mematung. Tak bergerak.
Akhirnya wanita itu lelah dan bermanja dengan pria lainnya di depannya.
Mencoba menarik garis-garis kecemburuan di mata pria itu.
Tapi pria itu hanya menatapnya kosong.
Tiba-tiba saja dalam bayang kerlipan lampu berwarna-warni,
kulihat pria itu menatapku dan tersenyum.
Sadarkah dia aku memperhatikannya dari tadi?
Aku menatapnya dan membalas senyumannya.
Ah, manusia!
Aku menguap.
Temanku ikut menguap disampingku.
Waktu masih muda. Masih jam 3 pagi.
Tapi kantuk telah menepukku dan rasa kosong mulai hinggap.
Waktunya pulang.
Jakarta, March 4 2005.
Fear No Deadline. BC Bar.

<< Home